<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aliansi Penulis Pro Syari'ah</title>
	<atom:link href="http://alpenprosa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alpenprosa.wordpress.com</link>
	<description>Membentang Kata Menuai Kemuliaan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 01:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alpenprosa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aliansi Penulis Pro Syari'ah</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alpenprosa.wordpress.com/osd.xml" title="Aliansi Penulis Pro Syari&#039;ah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alpenprosa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>DI NEGERIKU ADA PENCURI</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/12/07/di-negeriku-ada-pencuri/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/12/07/di-negeriku-ada-pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 07:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Lyric &#38; Song by Umar Abdullah Di negeriku ada pencuri Pasang badan bela Century Uang amblas dibawa lari Nasabahnya mati berdiri Di negeriku ada pejabat Paling tak kuat sama suap Uang rakyat pasti disunat Jadi budak si cukong kakap Di negeriku ada bencana Banjir longsor lumpur dan gempa Rakyat korban terlunta-lunta Dan hanya dimakan srigala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=273&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lyric &amp; Song by Umar Abdullah</p>
<p>Di negeriku ada pencuri</p>
<p>Pasang badan bela Century</p>
<p>Uang amblas dibawa lari</p>
<p>Nasabahnya mati berdiri<br />
<span id="more-273"></span></p>
<p>Di negeriku ada pejabat</p>
<p>Paling tak kuat sama suap</p>
<p>Uang rakyat pasti disunat</p>
<p>Jadi budak si cukong kakap</p>
<p>Di negeriku ada bencana</p>
<p>Banjir longsor lumpur dan gempa</p>
<p>Rakyat korban terlunta-lunta</p>
<p>Dan hanya dimakan srigala</p>
<p>Ketika kezholiman merajalela</p>
<p>Menutupi bumi dimana jua</p>
<p>Ketika penguasa tak punya rasa</p>
<p>Menyakiti rakyat tak kenal lelah</p>
<p>2x</p>
<p>Saatnya tampil umat yang adil</p>
<p>Saatnya tampil pemimpin adil</p>
<p>Saatnya tampil sistem yang adil</p>
<p>Saatnya tampil dunia yang adil</p>
<p>2x</p>
<p>MO DENGERIN ATAU DOWNLOAD LAGUNYA DI:<br />
<a title="http://mediaislamnet.com/puisi-puisi-jiwa/214-di-negeriku-ada-pencuri.html" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=182168551294&amp;h=c066d54cba7ed1ed6772a9c4ac5194e0&amp;url=http%3A%2F%2Fmediaislamnet.com%2Fpuisi-puisi-jiwa%2F214-di-negeriku-ada-pencuri.html" target="_blank">DI NEGERIKU ADA PENCURI-MEDIA ISLAM NET</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=273&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/12/07/di-negeriku-ada-pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kayla Kala Kara (part 3)</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-3/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 15:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction Room]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[by: Nafiisah FB Malam sudah pekat menyelimuti bumi. Namun, para manusia tidak sepenuhnya terlelap dan terbuai dalam mimpi. Sebagian masih terbangun, masih bekerja keras demi nafas keesokan hari. Kayla berjalan melewati sebuah gerobak. Dia tertegun. Seorang ibu bersama seorang bayi tidur dalam gerobak itu. Seorang pria tampak tidur di sisi gerobak, beralas sebuah tikar usang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=271&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by: Nafiisah FB</p>
<p>Malam sudah pekat menyelimuti bumi. Namun, para manusia tidak sepenuhnya terlelap dan terbuai dalam mimpi. Sebagian masih terbangun, masih bekerja keras demi nafas keesokan hari.<br />
Kayla berjalan melewati sebuah gerobak. Dia tertegun. Seorang ibu bersama seorang bayi tidur dalam gerobak itu. Seorang pria tampak tidur di sisi gerobak, beralas sebuah tikar usang. Mungkin bapaknya, pikir Kayla. Mereka tampak nyenyak.<br />
”Mereka tidur nyenyak. Tapi, bukan berarti mereka layak berada dalam kondisi seperti itu!”<br />
Kayla menghela nafas panjang, menahan panas di kelopak matanya agar tidak menderas membasahi pipinya.<br />
Batin Kayla terus bicara, ”Kalian seharusnya bisa tidur di kasur empuk. Bukan yang mewah. Karena, gua yakin kalian pun enggak akan memaksa, meminta harus ada. Dan, karena kalian bukan mereka yang serakah! Cukup kasur yang sepadan buat seorang manusia.”<br />
Kayla merasakan panas di dua kelopak matanya semakin menyengat. Setitik air jatuh. Dia menahan sekuatnya.<br />
”Dan Papi telah merampasnya!” teriak batin Kayla.<br />
Panas di kelopak mata berubah menjadi banjir airmata seketika. Kayla berlari.</p>
<p><span id="more-271"></span>oooOooo</p>
<p>Kayla berlari lalu berhenti. Dia memandangi manusia-manusia di tengah perjuangan. Mereka berkeringat dalam kerja keras. Kayla berkeringat dalam kemarahan yang sangat. Dia lalu kembali berlari.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Kayla berlari. Dia terus berlari melewati para perempuan yang tertawa genit kepada para lelaki hidung belang. Demi uang.<br />
Kayla melewati kerumunan orang. Larinya melambat perlahan. Dia menyeruak. Orang mati! Tubuhnya bersimbah darah tertusuk belati. Karena uang.<br />
“Kasian banget ni orang. Motornya dirampok!” Begitu yang Kayla sempat dengar.<br />
Tubuh Kayla bergetar. Dia menjauhi kerumunan. Suara sirene polisi terdengar mendekat. Dingin yang menjalari tubuh Kayla terasa semakin mencekat.<br />
”Perampok membunuh! Orang itu mati karena motornya!” Suara hati Kayla terus berdentuman. Kayla tersengal.<br />
”Papi perampok! Banyak orang mati dan mereka harus kehilangan sesuatu yang belum sempat mereka nikmati. Karena &#8230; Papi telah merampasnya!”<br />
Kayla terus berteriak dalam batinnya. Dia terus menatapi kerumunan itu dalam hujan airmatanya. Dia terus berjalan mundur dalam gamang, dengan risau terdalam, dengan rasa bersalah yang semakin menghujam.<br />
Sebuah mobil melaju. Kayla tetap dalam langkah mundurnya dengan tatapan yang dari awal tertuju. Lalu … BRAK!</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Wirya Hadibrata menangis terisak menatapi gundukan tanah merah itu. ‘Kayla Putri Hadibrata’, nama itu jelas tertulis di papan nisan.<br />
”Maafkan Papi, Sayang. Maafkan.”<br />
Tubuh Wirya Hadibrata terguncang-guncang seiring tangis yang terdengar. Penyesalan itu pasti ada. Kesedihan itu pasti ada. Tapi, semua tidak lagi berguna.<br />
Galuh berdiri memandangi makam Kayla, sendu. Airmata menjadi saksi rasa kehilangannya yang sangat. Bu Sri ada di sampingnya, mengenggam tangannya. Seorang petugas tetap dalam posisinya, mengawal Wirya Hadibarata.<br />
”Ya Allah Ya Rabb, tempatkanlah sahabatku di tempat terbaik di sisi-Mu,” doa Galuh sepenuh hati. Isak masih menyertai.<br />
Petugas mengawal Wirya Hadibrata berjalan ke kendaraan kembali, melewati tempat Galuh berdiri. Sesaat Wirya Hadibrata berhenti, memandangi Galuh. Airmata itu Galuh lihat kembali menetes dari ujung dua mata Wirya Hadibrata. Galuh menunduk, tidak sanggup melihat derita. Wirya Hadibarata kembali berjalan.<br />
”Ya Allah Maha Penerima Taubat, terimalah taubat hamba-hamba-Mu yang dengan segala ketundukan ingin kembali menjadi hamba-Mu yang Engkau cintai,” lanjut doa Galuh sambil memandangi langkah kaki Wirya Hadibrata yang semakin mendekat ke kendaraan.<br />
”Ya Allah Yang Maha Penolong, Yang Maha Kuasa, hadirkanlah kemudahan bagi para hamba-Mu yang memperjuangkan kebenaran. Agar hukum-hukum-Mu saja yang menentukan salah dan benar. Agar aturan-Mu saja yang menyertai hidup para insan. Agar keadilan yang sejati bisa hadir di muka bumi ini. Amin.”</p>
<p>oooOooo</p>
<p>”Gua Kayla, anak seorang Hadibrata. Gua enggak bisa melepaskan nama itu dari nama gua,walaupun gua ingin! Gua tahu gua dosa kalau gua bilang gua malu jadi anak Papi! Tapi, gua enggak bisa menghindari! Gua semakin merasa sendiri, merasa Kayla yang kara.”<br />
Galuh mengusap airmatanya, lalu melanjutkan membuka halaman diari Kayla.<br />
”Gua tetap Kayla yang kara. Tapi, hari ini gua bahagia! Karena Galuh tetap bersedia jadi teman gua. Walaupun &#8230; jujur, gua tetap sulit percaya kalau sahabat itu ada.”<br />
Galuh menghela nafas. Dia mengusap kembali airmatanya, sebelum membuka halaman diari yang berikutnya.,<br />
“Gua masih Kayla yang kara. Dan, Galuh masih aja mau jadi teman gua. Andai Papi tahu, dia pasti iri. Gua ternyata masih layak ditemani manusia baik hati. Sedangkan Papi &#8230; dia menjadi budak uang, harga dirinya mati!”<br />
Lalu, halaman yang berikutnya &#8230;.<br />
”Gua berharap gua bisa bilang ke Galuh, kalau gua sangat berterimakasih sampai detik ini dia berusaha selalu ada buat gua. Tapi, gua terlalu angkuh untuk bilang kalau gua memang butuh dia. Gua lebih suka dia tahu gua yang kara. Dia cukup tahu kalau senyum gua ceria. Walau di dalamnya hampa.”<br />
Galuh menutup diari Kayla. Dia tidak meneruskan ke halaman selanjutnya. Dia tidak sanggup meneruskan.<br />
Semua telah terungkap. Galuh mengenali Kayla seutuhnya &#8230; akhirnya.<br />
Galuh kembali membuka diari Kayla. Tangannya menuju sebuah lembar yang kosong, lalu menuliskan sesuatu di sana.</p>
<p>”Adalah anugrah aku bisa mengenal kamu, Kayla. Kamu telah menunjukkan sebuah pelajaran berharga. Ramadhan kini pasti tidak akan sama seperti sebelumnya. Tanpa Kayla. Tapi,aku bahagia karena kamu percaya aku adalah temanmu. Semoga Allah melimpahkan ampunan bagimu, dan menyatukan kita dalam Surga-Nya, saat nanti waktunya tiba.”<br />
Galuh selesai menulis. Dia menyimpan kembali diari di sebuah kotak berwarna biru, senada dengan warna diari itu. Dia selamanya akan mengenang semua peristiwa. Sedih. Bahagia. Semua kisah tentang Kayla.</p>
<p>TAMAT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=271&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kayla Kala Kara (part 2)</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-2/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 14:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction Room]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[by:Nafiisah FB “Kay ….” Sebuah suara lembut memasuki ruang kamarnya, membuyarkan ingatannya tentang masa-masa sebelumnya, mengalihkan kesadarannya ke kejadian semalam. Wirya Hadibrata resmi menjadi tersangka kasus korupsi dan telah menjadi tahanan titipan di Polda Metro Jaya. ”Kay&#8230;.” Kayla menolehkan wajah sayunya. Galuh telah berdiri di dekat tempat tidurnya. Dia memandangi suasana kamar kos Kayla yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=268&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by:Nafiisah FB</p>
<p>“Kay ….”<br />
Sebuah suara lembut memasuki ruang kamarnya, membuyarkan ingatannya tentang masa-masa sebelumnya, mengalihkan kesadarannya ke kejadian semalam.<br />
Wirya Hadibrata resmi menjadi tersangka kasus korupsi dan telah menjadi tahanan titipan di Polda Metro Jaya.<br />
”Kay&#8230;.”<br />
Kayla menolehkan wajah sayunya.<br />
Galuh telah berdiri di dekat tempat tidurnya. Dia memandangi suasana kamar kos Kayla yang berantakan sebelum dia menghampirinya.<br />
”Makan, yuk,” ajak Galuh setelah duduk di sisi Kayla. Kayla hanya diam.<br />
”Kay, kamu belum makan dari kemarin malam.”<br />
”Gua enggak laper.”<br />
”Kay. &#8230;”<br />
”Gua mau semua kebusukan di tubuh ini hilang!”<br />
”Tapi, enggak begini caranya!” argumen Galuh dengan suara tertahan.<br />
Kayla terdiam. Galuh terdiam. Keheningan sesaat menyebar.<br />
“Papi kamu yang salah. Lantas kenapa kamu yang menghukum diri?” tanya Galuh.<br />
”Karena gua pernah ikut nyicipin semua fasilitas yang berasal dari kerja dosa Papi!”<br />
”Kamu kan enggak tahu sebelumnya.”<br />
”Gua seharusnya tahu lebih awal!”<br />
”Tetap itu bukan kesalahan kamu! Dan, kamu tetap harus makan.”<br />
”Gua enggak mau bikin susah lebih banyak orang.”<br />
“Aku enggak merasa susah. Karena, uang untuk beli makanan kamu, aku ambil dari honor kamu nulis. Aku tadi pergi ke redaksi majalah Girly, mintain langsung honor kamu. Jadi, mereka enggak usah transfer dan kamu bisa punya uang cash sekarang. Sori aku lancang. Aku cuma mau bantu. Kamu kan udah empat hari ini enggak bisa kemana-mana.”<br />
Kayla menoleh ke arah Galuh. Galuh melihat lekat wajah Kayla yang pucat.<br />
”Kenapa elo masih mau jadi temen gua, Luh?” tanya Kayla sungguh-sungguh.<br />
”Karena kamu baik.”<br />
”Hm! Baik!” Kayla mendengus sinis.<br />
”Buktinya mereka menjauh dari gua!” teriak Kayla.</p>
<p><span id="more-268"></span>”Mereka cuma ingin bersahabat dengan tampilan fisik kamu, dengan kemewahan yang kamu dapat! Tapi, bukan dengan diri kamu yang sebenarnya! Jadi, lupakan mereka! Dan &#8230; aku bukan mereka!”<br />
Kayla terdiam. Dia tetap menujukan dua matanya ke dua mata Galuh. Tajam. ”Terimakasih, Luh. Untuk semua yang elo pernah kasih ke gua. Sejak Mami meninggal. Sejak Papi &#8230;.”<br />
”Kay, kamu enggak akan pernah sendirian ngadepin ini semua. Ada Alloh. Ada aku.”<br />
Kayla kembali menangis, terisak. Galuh sekali lagi menyediakan bahunya bagi Kayla. Dia membiarkan airmata Kayla membasahi kerudungnya. Namun, tidak lama. Tiba-tiba kepala Kayla lunglai.<br />
Galuh terkesiap. Tidak terdengar lagi isak.<br />
”Kay! Kayla!” panggil Galuh berulang sambil menepuk pipi Kayla pelan. Kayla tetap diam.<br />
”Kaylaaaa!” panggil Galuh dalam kepanikan.<br />
”Bu Sriiii!” teriak Galuh memanggil ibu kos sekuat tenaga.<br />
”Bu Sriii! Toloooong!”</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Tubuh Wirya Hadibrata tetap tampak gagah dalam balutan baju oranye. Dia diapit dua petugas, diiringi tiga pengacaranya yang handal. Mereka menuju ruang pengadilan.<br />
Adegan demi adegan begitu jelas tampak di layar kaca. Adegan demi adegan yang membuat beberapa orang di satu tempat berdegup kencang, karena bisa jadi sebentar lagi mereka yang mendapat giliran.<br />
Adegan demi adegan yang memunculkan sedikit kelegaan di sebagian orang yang lain. Sedikit. Karena mereka masih digelayuti kekhawatiran besar. Uang yang seharusnya mereka rasakan manfaatnya tidak akan pernah bisa kembali kepada mereka. Dan, orang-orang besar berhati kerdil itu bisa bebas dari kesalahan lalu kembali melakukan hal keji yang sama.<br />
Adegan demi adegan yang menambah luka di hati Kayla.<br />
“Om butuh kamu, Kay,” ucap Galuh lirih.<br />
“Papi bersama para pengacaranya. Dan, itu sudah cukup bagi dia! Gua enggak perlu hadir di sana!” respon Kayla ketus.<br />
“Om butuh keluarganya, bukan pengacara!” balas Galuh, kini lebih lantang.<br />
Kayla menatapnya tajam. Galuh menatapnya juga, menantang.<br />
”Papi enggak pernah butuh gua, karena Papi enggak pernah nganggep gua ada buat dia!”<br />
Galuh membuka mulutnya, akan kembali bicara. Kayla segera angkat suara.<br />
”Gua pergi! Gua mau sendiri!”<br />
Setelah itu Galuh hanya mampu memandangi langkah Kayla yang bergegas menuju luar. Galuh menghela nafas panjang, menunduk dalam keresahan.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Malam hampir datang. Sebagian manusia tampak bergegas pulang. Mereka ingin segera menghempas kepenatan.<br />
Kayla masih berjalan sambil melihat sekeliling yang mulai temaram. Kayla berjalan menatapi mereka. Anak-anak kecil yang bernyanyi dengan suara apa adanya, dengan peralatan apa adanya. Seseorang dari balik kaca mobil yang diturunkan setengah memberi mereka sebuah logam lima ratusan. Seorang anak perempuan menyambutnya dengan senang. Dia berlari ke arah Kayla. Anak perempuan dan Kayla bertatap mata sesaat. Perih di hati Kayla tergurat.<br />
”Elo seharusnya mendapatkan lebih dari lima ratus rupiah! Elo berhak dapat lebih dari itu!” batin Kayla untuk anak perempuan itu.<br />
Si Anak Perempuan lalu berlari kembali. Kayla masih memandangi.<br />
”Tapi, Papi telah merampasnya &#8230; ,” lirih Kayla.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Bu Sri duduk gelisah. Galuh berjalan mondar-mandir, bingung.<br />
”Apa ndak ditelpon aja, Mbak Galuh?”<br />
”Dia enggak bawa hape, Bu! Itu yang bikin saya tambah was-was.”<br />
”Lapor polisi aja.”<br />
”Paling polisi nyuruh kita nunggu. Kan, belum 24 jam.”<br />
”Aduh, terus gimana? Udah jam 9 begini!”<br />
Galuh duduk, semakin gelisah.<br />
”Saya enggak tahu, Bu.”</p>
<p>(bersambung)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=268&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kayla Kala Kara (part 1)</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-1/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 14:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction Room]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[By: Nafiisah FB Kamar itu berantakan. Bantal, guling, dan selimut berserakan di atas tempat tidur dan di lantai. Seorang gadis muda duduk terpekur, melandaskan bahunya di sisi pembaringan. Ada bekas airmata di pipinya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai masai. “Papi … jahat …” lirih suaranya terdengar. “Aaaah!” teriaknya sambil melempar sebuah figura foto dengan marah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=264&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>By: Nafiisah FB</p>
<p>Kamar itu berantakan. Bantal, guling, dan selimut berserakan di atas tempat tidur dan di lantai. Seorang gadis muda duduk terpekur, melandaskan bahunya di sisi pembaringan. Ada bekas airmata di pipinya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai masai.<br />
“Papi … jahat …” lirih suaranya terdengar.<br />
“Aaaah!” teriaknya sambil melempar sebuah figura foto dengan marah yang sangat. Foto dirinya bersama seorang pria setengah baya.<br />
PRANG! Figura foto itu pecah setelah melayang menghantam kaca jendela, menghantam memorinya.</p>
<p><span id="more-264"></span>oooOooo</p>
<p>“Hai, Kay!”<br />
”Halo, Kay!”<br />
”Kay, boleh enggak main ke rumah lo?”<br />
“Apa kabar, nih?”<br />
“Makin cantik aja lo.”<br />
“Kay, Si Hans anak XII D IPS mau kenalan tuh!”<br />
”Siang Cantik. Abang boleh dong nganterin hari ini?”<br />
Sapaan-sapaan itu … sapaan-sapaan yang sangat biasa menghampiri dirinya sejak kakinya menjejak di depan gerbang sekolah tiap pagi. Kayla, gadis yang tipikal Rachel Weitz itu biasanya menanggapi dengan senyum sambil menjawab singkat.<br />
”Hai!”<br />
”Halo juga!”<br />
“Boleh. Kebetulan Satpam rumah gua lagi butuh lawan buat main catur.”<br />
“Gua &#8230; fine.”<br />
”Gua cantik? Terimakasih.”<br />
“Oh ya? Gua juga senang kok bisa nambah temen.”<br />
”Sori banget. Gua udah dianter supir angkot.”<br />
Setelah itu, ritual Kayla adalah pergi ke perpustakaan lalu mencari tempat di pojok ruangan, untuk kemudian siap membaca bahan untuk tugasnya atau mengetik tugas di laptop merah jambunya.<br />
Kayla yang cantik. Kayla yang sederhana walaupun anak orang kaya. Dia selalu naik kendaraan umum kalau kemana-mana. Kayla yang populer karena cerita bersambung yang dia tulis untuk sebuah majalah remaja.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Jam istirahat tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas , menyerbu kantin untuk  mencari pengganjal perut sementara.<br />
“Kay!”<br />
Kayla yang baru saja keluar dari ruang kelas menoleh ke sebuah suara. Suara milik seorang yang dia kenal. Kerudung putihnya melambai-lambai seiring langkah kakinya yang cepat.<br />
“Eh, Luh!” Kayla sumringah menanti Gauh, saat cewek manis itu menghampiri.<br />
“Assalamu’alaikum, Kay,” sapa Galuh setelah tiba di hadapan Kayla.<br />
“Wa’alaikum salam. Tumben elo ke kelas gua di jam istirahat gini. Enggak ada kegiatan di mushola?”<br />
”Hmmm &#8230;” Galuh tampak bimbang mengatakan maksudnya.<br />
”Ada apa sih, Luh? Muka lo pucet gitu.”<br />
”Hmm &#8230; mendingan kamu ikut aku sekarang!”<br />
”Kemana?!”<br />
”Ikut aja deh ya. Yuk!”<br />
Galuh menggandeng Kayla.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Di sekretariat rohis, sebuah ruangan dua kali tiga meter yang terletak di sebelah mushola, Galuh dan Kayla duduk berhadapan.<br />
”Kay &#8230;.”<br />
Galuh memperlihatkan phone TV  kepada Kayla.<br />
”Lo punya handphone yang ada TV-nya? Hebat dong! Selamet ya.”<br />
”Bukan punyaku, Kay. Ini punya Yasmin! Coba kamu liat ini.”<br />
Galuh memencet sebuah tombol bertulis play record.  Setelah itu tampak di layar ponsel sebuah rekaman acara berita.<br />
Kayla membisu. Wajahnya pias.<br />
”Tadi Tanto juga sempet liat di depan sekolah ada mobil stasiun TV dan beberapa wartawan mondar-mandir. Mereka kemungkinan nyari kamu! Lebih baik kamu menghindar!”<br />
”Tapi gimana caranya?” Kayla kelu.<br />
”Pas bubaran sekolah kamu langsung pakai helm ini.” Kayla memberikan sebuah helm. Kaca helm itu gelap.<br />
”Kamu dianter pulang ke kosan sama Yasmin pake’ motor.”<br />
”Oke,” respon Kayla  setelah beberapa detik berpikir.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>”&#8230; Wirya Hadibrata hari ini memenuhi panggilan KPK terkait dengan kasus penggelapan aliran dana likuidasi ke sejumlah bank. Namun, ketika dimintai keterangan usai pemeriksaan di KPK dari siang hingga sore tadi, Hadibrata enggan memberikan komentar.”<br />
Suara  anchorwoman telah menghilang, namun ketegangan di wajah Kayla tidak. Dia terdiam menatap TV.<br />
”Itu bukan Papi, kan, Luh?”<br />
Akhirnya suara Kayla terdengar. Lirih. Sedih.<br />
Galuh menghela nafas sebentar sebelum memberikan jawaban singkat,”Itu bener Om Wirya.”<br />
Seketika Kayla merasakan tubuhnya lemas. Wajahnya pias.<br />
”Tapi, Om ke sana hanya sebagai saksi, Kay,” imbuh Galuh, mencoba menenangkan.<br />
Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.<br />
”Saat itu akan datang. Gua tahu, Luh. Pasti bakal datang.”<br />
Galuh mengerutkan keningnya. Dia mencoba mencerna maksud perkataan Kayla. Belum tuntas Galuh berusaha, airmata itu segera dilihatnya. Airmata milik Kayla.<br />
”Sebentar lagi Ramadhan dan Papi di penjara.”<br />
Setelah itu hening, hanya isak Kayla yang mengisi udara di sekeliling mereka. Galuh segera memeluknya.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>Itu kejadian tiga hari sebelumnya. Dan, kini di kamarnya Kayla masih duduk dikelilingi selimut, bantal, dan guling yang bertebaran, berantakan. Dia lemah, semakin lemah. Bahunya dilandaskan ke sisi pembaringan. Kepalanya rebah.<br />
“Papi … jahat ….” Suara Kayla kembali lirih terdengar.<br />
Kini ingatan itu menuju masa sebulan ke belakang.</p>
<p>oooOooo</p>
<p>”Kamu enggak perlu ikut campur masalah bisnis Papi, Kayla!”<br />
”Kayla harus ikut campur karena Kayla makan dan minum dari hasil bisnis Papi! Kayla enggak mau daging dan darah tubuh ini menjadi busuk, sebusuk uang yang Papi hasilkan!”<br />
PLAK!<br />
Panas. Kayla merasakan panas di pipi kirinya sangat jelas.<br />
Merah. Kayla melihat wajah papinya yang memerah sangat jelas.<br />
Telapak tangan papinya masih terbuka. Tangan itu bergetar, namun Kayla tidak gentar. Tangan itu &#8230; tangan yang selama tujuh belas tahun membelainya sayang, kini bergetar setelah keras menampar.<br />
Hati Kayla perih, namun Kayla tidak mundur. Dia telah mengambil keputusan.<br />
”Kayla akan segera menyerahkan kunci mobil yang selama ini Kayla pakai. Kayla akan serahkan tabungan Kayla ke Papi malam ini juga. Kecuali, laptop merah jambu. Itu hasil keringat Kayla sendiri. Setelah itu, dengan atau tanpa ijin Papi, Kayla keluar dari rumah ini!”<br />
Kayla mengucap kata demi kata tanpa tertatih, seiring tatapannya matanya yang tidak sedetikpun beralih dari tatapan mata Wirya Hadibrata.<br />
”Dan, untuk itu semua &#8230; Kayla mohon maaf. Beribu-ribu maaf.”<br />
Usai kalimat itu dikatakan, Kayla segera beranjak pergi. Dia meninggalkan Wirya Hadibrata yang masih mematung dalam amarahnya.</p>
<p>(bersambung)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=264&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/10/05/kayla-kala-kara-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEWAJIBAN MENGANGKAT PEMIMPIN DAN PERAN PARTAI POLITIK</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/06/04/kewajiban-mengangkat-pemimpin-dan-peran-partai-politik/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/06/04/kewajiban-mengangkat-pemimpin-dan-peran-partai-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 11:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Tamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu legislatif telah selesai digelar. Kini tinggal Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Walaupun demikian, beberapa elit politik negeri ini telah dan terus melakukan manuver politiknya untuk membangun koalisi menjelang Pilpres mendatang. Berbagai pertemuan antara elit politik jelas dimaksudkan untuk mencari pasangan Capres dan Cawapres yang akan bertarung di Pilpres mendatang. Persoalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=262&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu legislatif telah selesai digelar. Kini tinggal Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Walaupun demikian, beberapa elit politik negeri ini telah dan terus melakukan manuver politiknya untuk membangun koalisi menjelang Pilpres mendatang. Berbagai pertemuan antara elit politik jelas dimaksudkan untuk mencari pasangan Capres dan Cawapres yang akan bertarung di Pilpres mendatang. Persoalan perbedaan <em>platform</em> dan ideologi di antara partai-partai politik (parpol) bukan penghalang untuk membangun koalisi. Bahkan dianggap sudah tidak penting dan tidak relevan lagi.</p>
<p>Menghadirkan seorang pemimpin yang benar-benar memperhatikan urusan rakyatnya menjadi sebuah keniscayaan. Maka tak heran jika banyak yang berharap pada pemilu kali ini dengan cara menggunakan hak suara mereka. Hingga ada yang mengatakan bahwa memilih untuk tidak memilih adalah pilihan yang tidak cerdas dan menunjukkan sikap apatis. Benarkah demikian? Apakah pemilu satu-satunya jalan untuk menghadirkan seorang pemimpin yang adil yang memperhatikan rakyatnya atau adakah jalan lainnya?</p>
<p><strong><span id="more-262"></span>Kewajiban Mengangkat Seorang Pemimpin </strong></p>
<p>Mengangkat pemimpin dalam Islam hukumnya wajib. Hal ini telah dinyatakan dalam nash-nash syar’i. Rasul Saw bersabda: “<em>jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya</em>” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurayrah). Ijma sahabat juga menunjukkan kewajiban mengangkat seorang pemimpin. Hal tersebut dapat dicermati dari riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat tidak bersegera memakamkan jenazah Rasulullah Saw hingga mereka berhasil mengangkat Abu Bakr ra sebagai pengganti Rasul dalam urusan pemerintahan. Padahal memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah yang pelaksanaannya tidak boleh ditunda. Akan tetapi sahabat tidak melakukannya, ini berarti ada perkara lain yang wajib dilaksanakan dan didahulukan yaitu mengangkat seorang pemimpin bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah Saw. Dan ijma sahabat tersebut merupakan dalil syar’i yang wajib diambil oleh kaum muslimin.</p>
<p>Pemimpin yang dikehendaki oleh Islam adalah pemimpin menerapkan hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Maka dalam konteks ini jelas bukan hanya persoalan person/individu saja yang diperhatikan tapi juga sistem yang diterapkan. Mengangkat seorang pemimpin berarti menyerahkan urusan rakyat untuk diatur oleh pemimpin yang diangkat dan diberi mandat oleh rakyat. Dan adanya ketaatan merupakan konsekuensi dari mengangkat seorang pemimpin. Allah Swt berfirman: “<em>Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin (uli al-amr) di antara kalian</em>” (QS an-Nisa’ [4]:59).</p>
<p>Ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan yang dibenarkan oleh syariat dan bukannya ketaatan untuk melakukan kemaksiatan. Sebagaimana hadits riwayat Imam Ahmad bahwa Rasul Saw bersabda: “<em>Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada al-Khaliq (Allah)</em>.” Jadi ketaatan bukanlah bagi mereka yang tidak menjalankan hukum-hukum Allah, karena kita dilarang menaati orang yang bermaksiat kepada Allah, sebagaimana dalam hadits di atas.</p>
<p>Namun, perintah untuk menaati <em>uli al-amr</em> saat ini tidak bisa diwujudkan karena objek yang wajib ditaati (<em>uli al-amr</em>) tidak ada. Maka perintah untuk menaatinya sekaligus menjadi perintah untuk mewujudkannya. Sehingga ketaatan terhadap <em>uli al-amr</em> bisa terwujud. Karena itu, menaati <em>uli al-amri</em> itu merupakan <em>dalalah iltizam</em> (indikator yang membawa konsekuensi) wajibnya mengangkat dan mewujudkan <em>uli al-amri</em>.</p>
<p><strong>Perjuangan Politik sebagai Jalan Perubahan</strong></p>
<p>Banyak kalangan yang berharap pemilu akan menjadikan negeri ini lebih baik. Berharap lahirnya pemimpin yang memperhatikan urusan rakyatnya akan lahir melalui pesta demokrasi tersebut. Bahkan sebagian beranggapan pemilu adalah satu-satunya cara untuk merubah kondisi negeri ini. Sebagian kaum muslim pun berpendapat, tanpa keikutsertaan mereka yang membawa misi keislaman (baik sebagai pemilih maupun yang dipilih) berarti sama saja dengan menyerahkan urusan kaum muslimin kepada orang-orang kafir atau mereka yang menjadi antek para musuh islam. Walhasil, muncullah pemikiran bahwa pemilu menjadi wajib dan golput (dengan alasan apapun) pun  diharamkan.</p>
<p>Negeri ini telah melaksanakan pemilu berkali-kali. Sejak masa orde lama, orde baru hingga orde reformasi pemilu tidak membawa perubahan apa-apa. Bahkan kondisinya cenderung semakin parah. Fakta sejarah menunjukkan bahwa perubahan yang mendasar justru bukan lahir dari pemilu atau melalui parlemen (konstitusional). Pergantian orde lama ke orde baru, orde baru ke masa reformasi justru terjadi secara inkonstitusional. Begitu juga yang terjadi di belahan dunia lainnya, revolusi industri di Eropa, revolusi Iran, kudeta di Thailand, semuanya terjadi di luar perlemen. Begitulah kenyataannya bahwa perubahan besar, menyeluruh dan mendasar selalu terjadi di luar sistem.</p>
<p>Namun, tulisan bukanlah hendak bermaksud memprovokasi masyarakat untuk memboikot pemilu kemudian melakukan kudeta atau revolusi berdarah. Tapi hendak meluruskan pemahaman dan berfikir ideologis. Bagi mereka yang memilih untuk golput karena sikap apatis kemudian pasrah dan berserah diri kepada kondisi yang ada tentu tidak dibenarkan. Akan tetapi, setiap sikap dan pilihan yang diambil tentu dengan pertimbangan ideologis yang benar. Yaitu dengan jalan perjuangan politik sebagaimana dicontohkan Rasul Saw. Melalui pembinaan masyarakat dengan pemikiran Islam, berinteraksi dengan mereka dengan melakukan pergolakan pemikiran, mengajak kalangan yang menjadi pilar-pilar Negara yang memiliki kekuatan (<em>ahlu an-nushrah</em>) untuk menerima dakwah Islam, serta menerapkan hukum Islam di tengah-tengah kehidupan.</p>
<p>Perjuangan politik tidak bisa dilakukan tanpa adanya partai politik. Ini merupakan sebuah keharusan bahkan sebuah kewajiban. Kewajiban untuk mewujudkan pemimpin tidak akan bisa terwujud tanpa adanya partai politik yang memperjuangan hal tersebut. Karena itu, keberadaan partai politik menjadi wajib. Inilah konklusi yang bisa ditarik dari <em>dalalah iltizam</em> (sebagaimana penjelasan sebelumnya) dalam ilmu ushul fiqh. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah partai politik Islam yang menjadikan <em>fikrah</em> (pemikiran) dan <em>thariqah</em> (metode) Islam sebagai landasan geraknya. Sehingga perubahan yang dicita-citakan adalah terwujudnya kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Di sanalah terlihat fungsi edukasi dari sebuah partai politik. Membangun kesadaran umat dengan pemahaman Islam. Bukan hanya sekedar melakukan aktivitas untuk kepentingan pemilu. Dengan melakukan perjuangan politik berdasarkan <em>thariqah</em> perjuangan Rasul Saw berarti sebuah partai politik telah melakukan sebab-sebab yang akan mengantarkan pada keberhasilan dan kemenangan Islam. Keyakinan akan janji Allah akan menjadi kekuatan tersendiri bagi para aktivisnya. Dan tentu tanpa melupakan kaidah kausalitas (sebab-akibat) yang harus dijalani. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=262&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/06/04/kewajiban-mengangkat-pemimpin-dan-peran-partai-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malangnya Nasib Rakyat Akibat Privatisasi</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/04/14/malangnya-nasib-rakyat-akibat-privatisasi/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/04/14/malangnya-nasib-rakyat-akibat-privatisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 15:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi rakyat yang kena dampaknya akibat ulah penguasa yang menjual BUMN. Tidak tanggung-tanggung, penguasa melalui Kementerian Negara BUMN memprivatisasi (menjual) 20 BUMN tahun ini. Privatisasi ini terus dilakukan pemerintah sejak Orde Baru hingga sekarang. Alasan yang dikemukakan pun cukup realistis, untuk menutupi Hutang Luar Negeri. Padahal kalau kita tahu,sejak ekonomi Indonesia berada dalam pengawasan IMF, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=260&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi rakyat yang kena dampaknya akibat ulah penguasa yang menjual BUMN. Tidak tanggung-tanggung,  penguasa melalui Kementerian Negara BUMN memprivatisasi (menjual) 20 BUMN tahun ini. Privatisasi ini terus dilakukan pemerintah sejak Orde Baru hingga sekarang. Alasan yang dikemukakan pun cukup realistis, untuk menutupi Hutang Luar Negeri.</p>
<p>Padahal kalau kita tahu,sejak ekonomi Indonesia berada dalam pengawasan IMF, Indonesia ditekan untuk melakukan reformasi ekonomi yang didasarkan pada Kapitalisme-Neoliberal. Reformasi tersebut meliputi: (1) campur-tangan Pemerintah harus dihilangkan; (2) penyerahan perekonomian Indonesia kepada swasta (swastanisasi) seluas-luasnya; (3) liberalisasi seluruh kegiatan ekonomi dengan menghilangkan segala bentuk proteksi dan subsidi; (4) memperbesar dan memperlancar arus masuk modal asing dengan fasilitas yang lebih besar (Sritua Arief, 2001). Di bawah kontrol IMF, Indonesia dipaksa mengetatkan anggaran dengan pengurangan dan penghapusan subsidi, menaikkan harga barang-barang pokok dan pelayanan publik, meningkatkan penerimaan sektor pajak dan penjualan aset-aset negara dengan cara memprivatisasi BUMN. Kenapa privatisasi terus dilakukan pemerintah? Privatisasi tidak lain merupakan upaya pemerintah untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap masyarakat.</p>
<p><span id="more-260"></span>Hal ini terjadi karena Pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengelola negara. Tidak aneh, setiap tahun Pemerintah hanya bisa menjual aset/kekayaan negara dengan cara ugal-ugalan. Akibatnya, kekayaan negara—yang hakikatnya milik rakyat—terus menyusut, sedangkan hutang negara terus bertambah. Di mana Peran Negara? Privatisasi merupakan salah satu agenda globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang diusung oleh IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), AS dan negara-negara Kapitalis lainnya, serta para investor global. Tujuannya tidak lain adalah penjajahan. Selain itu, syariah Islam telah mengharamkan dilakukannya privatisasi, yang hakikatnya memindahkan kepemilikan umum kepada pribadi (swasta), baik asing maupun domestik.</p>
<p>Program ini jelas sangat berbahaya, bukan saja bagi negara, tetapi bagi rakyat.  Privatisasi juga merupakan hukum Kufur yang tegak di atas prinsip pasar bebas dan sangat bertentangan dengan Islam. Penerapan hukum ini menjadikan Pemerintah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pelayan dan pengatur urusan masyarakat. Pemerintah kemudian menyerahkan perannya kepada pemilik modal. Ini menyebabkan tergilasnya hak-hak masyarakat, sementara para pemilik modal terus meningkatkan labanya. Syariah Islam menegaskan, bahwa Pemerintah harus mampu mengatur dan melayani urusan masyarakat. Untuk itu, Pemerintah harus memiliki alat dan sarana. Salah satunya dengan mendirikan badan-badan yang bertugas menggali sekaligus mengolah barang tambang serta memproduksi barang-barang yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah juga harus memiliki badan yang dapat menjamin terdistribusikannya semua itu di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Privatisasi terhadap BUMN yang terkategori sebagai milik umum dan sektor/industri strategis diharamkan oleh syariah Islam. Harta milik umum itu meliputi fasilitas umum, barang tambang yang jumlahnya sangat besar dan sumberdaya alam yang sifat pembentukannya menghalangi penguasaan oleh individu. Adapun industri strategis adalah industri yang menghasilkan produk vital yang tanpanya kegiatan pemerintahan dan masyarakat menjadi terhambat. Privatisasi bukanlah solusi, Privatisasi merupakan ancaman yang harus dicegah dengan menerapkan hukum Islam yang terkait dengan kepemilikan umum, juga dengan menegakkan Islam sebagai haluan negara, sehingga fungsi negara sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyat benar-benar tegak. Tanpanya, mustahil negara akan menjalankan fungsinya sebagai negara. Karena itu, kita memang membutuhkan syariah Islam untuk merealisasikannya.</p>
<p>Hera Doranti Aktivis Aliansi Penulis Pro Syari’ah AlPen ProSa Yogyakarta  Di kirim ke : Detik.com/ opini ,26 Februari 2009 Dimuat di Detik.com tgl 2 Maret 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=260&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/04/14/malangnya-nasib-rakyat-akibat-privatisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Lomba</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/03/06/pengumuman-lomba/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/03/06/pengumuman-lomba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 15:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan hasil penilaian dan melalui berbagai pertimbangan, maka hasil lomba adalah sebagai berikut: Juara 1-3 tidak ada Juara Harapan 1 : Noer Soetantin (Melepas Kapitalis, Merangkul  Sistem Ekonomi Syari&#8217;ah) Juara Harapan 2 : Christa Rahmawati (Saatnya Ekonomi Islam Memimpin) Juara Harapan 3 : Mila Nita (Upaya Menerapkan Sistem Ekonomi Syariah Sebagai Pengganti Ekonomi Kapitalis) Selamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=257&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan hasil penilaian dan melalui berbagai pertimbangan, maka hasil lomba adalah sebagai berikut:</p>
<p>Juara 1-3 tidak ada</p>
<p>Juara Harapan 1 :</p>
<p>Noer Soetantin (Melepas Kapitalis, Merangkul  Sistem Ekonomi Syari&#8217;ah)</p>
<p>Juara Harapan 2 :</p>
<p>Christa Rahmawati (Saatnya Ekonomi Islam Memimpin)</p>
<p>Juara Harapan 3 :</p>
<p>Mila Nita (Upaya Menerapkan Sistem Ekonomi Syariah Sebagai Pengganti Ekonomi Kapitalis)</p>
<p>Selamat kepada para pemenang.Kepada para pemenang diharapkan mengirimkan nomor rekeningnya melalui email alpenprosa@yahoo.co.id.</p>
<p>Demikian pengumuman ini dibuat. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=257&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/03/06/pengumuman-lomba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WANITA, POLITIK DAN BIAS GENDER</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/wanita-politik-dan-bias-gender/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/wanita-politik-dan-bias-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 14:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Tamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Úmmu Najla (tulisan tahun 2004) Menjelang 2004 diskursus sekitar bias jender terutama terkait dengan masalah minimnya partisipasi politik dan keterwakilan wanita dalam lembaga-lembaga kekuasaan (seperti: eksekutif maupun legislatif) yang berkewenangan dalam menetapkan kebijakan publik terus bergulir. Diskursus itu tidak hanya sekedar mempersoalkan bias jender yang berimplikasi terhadap peran politik wanita dalam kancah kehidupan. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=251&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Úmmu Najla (tulisan tahun 2004)</p>
<p>Menjelang 2004 diskursus sekitar bias jender terutama terkait dengan masalah minimnya partisipasi politik dan keterwakilan wanita dalam lembaga-lembaga kekuasaan (seperti: eksekutif maupun legislatif) yang berkewenangan dalam menetapkan kebijakan publik terus bergulir. Diskursus itu tidak hanya sekedar mempersoalkan bias jender yang berimplikasi terhadap peran politik wanita dalam kancah kehidupan. Namun, lebih dari itu telah menjadi ajang ‘gugatan’ aktivis wanita (baca: kaum feminis) yang memahami bahwa doktrin-doktrin agama (baca: Islam) yang selama ini menjadi sumber rujukan dalam berprilaku ternyata teralu bias kepada laki-laki.</p>
<p><span id="more-251"></span>Katakanlah adanya doktrin Islam yang secara normatif melarang kaum wanita memegang tampuk kekuasaan seperti; menjadi kepala negara (khalifah), gubernur (wali), bupati (amil) dan sebagainya. Larangan ini diyakini oleh kebanyakan kaum feminis dan para pemikir Islam kontemporer sebagai konstruk ‘ketidakadilan genetikal’ yang terwariskan tanpa mengalami deviasi signifikan dari masa ke masa. Karenanya menurut mereka konstruk demikian perlu dikaji ulang bahkan jika mampu didekonstruksi lantaran nyata-nyata bertentangan dengan doktrin demokrasi dan HAM yang menghendaki equalitas dan kebebasan dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu menurut mereka perlu ada agenda sistemik guna membebaskan wanita dari kungkungan domestikasinya.</p>
<p>Wanita harus tampil di ruang publik, berani mengambil peran dan tanggung jawab yang selama ini ‘dimonopoli’ laki-laki seperti menggumuli politik dan menduduki tampuk kekuasaan. Agenda tersebut secara simbolis telah diperankan kaum wanita yang memegang tampuk kekuasaan misalnya di Pakistan, Banglades,  Indonesia dan Propinsi Banten. Namun demikian, kehadiran wanita-wanita para pemegang tampuk kekuasaan itu bagi mereka dianggap masih belum menjadi lokomotif yang efektif untuk menarik gerbong kaum wanita secara signifikan. Sebab secara kuantitatif kaum wanita tetap minoritas pada lembaga-lembaga kekuasaan yang selama ini didominasi laki-laki. Dengan demikian menurut mereka prinsip equalitas yang ada dalam demokrasi dan HAM belum tegak. Maka dimunculkannya tuntutan kuota yang harus dilegislasi oleh UU Pemilu agar kaum wanita sedikitnya mendapatkan porsi minimal 30% dari total anggota legislatif yang bakal dipilih pada tahun 2004 mendatang, bisa dibaca dalam kerangka itu.</p>
<p>Kuota, Partisipasi dan Akar Masalah</p>
<p>Menurut Drude Dahlerup, Assosiasi Profesor Ilmu Politik pada University of Aarhus, Denmark (Women in Parliament: Beyond Number, Yayasan Jurnal Perempuan Jakarta, 1999), tentang minimnya keterlibatan wanita dalam politik dibutuhkan metode yang lebih efisien guna meningkatkan partisipasinya. Dalam hal ini sistem kuota disebutnya sebagai salah satu metode yang mungkin dapat meningkatkan partisipasi itu. Mekanismenya adalah merekrut kaum wanita untuk masuk dalam posisi politik dan memastikan bahwa wanita tidak terisolasi dalam kehidupan politik. Dengan begitu sistem kuota memastikan besarnya keterlibtan wanita dalam jumlah atau persentase tertentu; apakah dalam bentuk badan, daftar kandidat, majelis parlemen, komite atau pemerintah.</p>
<p>Namun demikian, bagi Maria Ulfa Anshor (Ketua umum Fatayat NU) sistem kuota merupakan ‘peraturan khusus sementara’ guna mendongkrak keterlibatan wanita dalam politik khususnya dalam hal keterwakilannya di parlemen. Bila wanita sudah memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam politik dan hambatan kompleksitasnya yang bersumber dari sosio-budaya maupun pemahaman agama yang bias jender sudah hilang, ketentuan kuota itu bisa dicabut kembali (Kompas, 24/2/2003). Di sini sistem kuota hendak dijadikan sebagai instrumen interim bagi dimulainya perjuangan menuju partisipasi politik wanita. Meski harus menghadapi kontroversi, setidaknya dalam tataran substansial dimana kuota cenderung ‘memaksa’ munculnya partisipasi politik wanita. Padahal inti dari partisipasi adalah pemahaman, kesadaran dan kerelaan kaum wanita akan politik sehingga dengan kesadaranya itu kaum wanita bisa mangartikulasikannya lewat struktur politik yang ada. Dengan demikian bila dicermati, sistem kuota yang diperjuangkan kaum feminis Indonesia setidaknya berakar pada tiga masalah yakni:</p>
<p>Pertama, ide (gagasan), kaum feminis menjadikan sistem kuota tidak hanya sebagai instrumen namun bila dikaji lebih dalam dari sumber gagasan dan ide-idenya lebih merupakan manifestasi gugatannya yang penuh kecurigaan terhadap doktrin-doktrin Islam yang dinilainya bias jender. Di sini kaum feminis gagal dalam memilah doktrin Islam ketika Islam sedang berbicara soal eksistensi wanita yang memang berbeda dengan laki-laki sehingga wanita harus menggeluti wilayah privat, domestik dan prilaku kewanitaan dengan misi wanita yang memiliki peran yang hampir sama dengan laki-laki di ruang publik.</p>
<p>Sesungguhnya eksistensi wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Sebab Allah SWT telah menciptakan manusia dalam dua jenis yaitu laki-laki dan wanita, untuk hidup bersama dalam suatu masyarakat. Keduanya diberikan potensi yang sama misalnya berupa potensi akal, naluri dan kebutuhan jasmani. Adanya potensi inilah yang mendorong keduanya untuk terjun ke dalam kancah kehidupan secara bersama-sama. Lebih dari itu, keduanya diciptakan oleh Allah SWT untuk saling tolong menolong (ta’awun) dalam menyelesaikan urusan atau persoalan bersama diantara mereka. Dalam QS At Taubah: 71 Allah SWT berfirman “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian menjadi penolong bagi sebagian yang lain”.</p>
<p>Sementara misi wanita sebagaimana laki-laki juga sama yakni sebagai haamilu al-dakwah dimana keduanya mengemban misi amar ma’ruf dan nahi mungkar atau dengan kata lain sebagai wotch dog yang konsisten. Oleh karena itu keduanya harus saling menghargai eksistensi dan misinya itu, demi terwujudnya masyarakat manusia yang damai tentram dan sejahtera. Keduanya juga harus memiliki kerangka pandang (visi) yang sama tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan ini secara bersama-sama untuk meraih kebahagiaan yang hakiki dalam sebuah masyarakat dengan tidak mendiskreditkan salah satu dari keduanya. Seperti yang dituduhkan kaum feminis dimana kaum laki-laki adalah ‘pengeksploitasi’ kaum wanita dalam relasi rumah tangga yang dibangun keduanya.</p>
<p>Kedua, struktur penopang gagasannya dalam melihat relasi wanita dengan laki-laki masih sebatas lembaga politik formal semacam lembaga eksekutif, legislatif dan badan/lembaga negara lainnya. Memang diakui pada struktur kekuasaan politik sebagaimana disebut di muka Islam melarang kaum wanita untuk mendudukinya. Namun larangan itu tidak lebih dari kekecualian terhadap sekian banyak struktur dan lapangan yang boleh digumuli kaum wanita. Misalnya dalam kehidupan bersama antara wanita dan laki-laki relasi keduanya mengharuskan untuk berperan serta menyelesaikan tidak hanya masalah privat dan domestik belaka akan tetapi masalah publik juga.</p>
<p>Ketiga, sebagai konsekuensi adanya larangan itu menjadi jelas bahwa lapangan artikulasi politik kaum wanita sesunggunya luas. Karena pada prinsipnya peran wanita dan laki-laki adalah sama dalam menyikapi masalah publik yakni tidak boleh berlepas tangan. Ini didasarkan dari pemahaman bahwa keduanya merupakan bagian dari umat yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan dan kesejahteraan hidup sesama. Dari Hudzaifah ra Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak memeperhatikan kepentingan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk diantara mereka, dan barang siapa yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasehat bagi Allah dan Rasulnya, bagi kitab-Nya, bagi pemimpinnya dan bagi umumnya kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk diantara mereka” (HR. At-Thabrany)</p>
<p>Berdasarkan nash ini jelaslah bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan untuk melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar dan memperhatikan urusan kaum muslimin. Perintah itu ditujukan kepada seluruh kaum muslimin tanpa membedakan apakah berkelamin wanita atau laki-laki. Jadi prinsip equalitas sebagaimana dikehendaki kaum feminis dalam struktur politik dan lapangan sosial Isalam sesungguhnya eksis dilihat dari sisi doktrin, struktur maupun artikulasinya.</p>
<p>Politik dan Keniscayaan Berpolitik</p>
<p>Politik senantiasa diperlukan oleh masyarakat manapun. Ia merupakan “upaya untuk memelihara urusan umat di dalam maupun di luar negeri”. Dari pengertian ini manusia pada hakekatnya baik secara eksistensial maupun interaksinya dalam kehidupan senantiasa berpolitik. Sebab pada faktanya manusia tidak pernah berhenti dari mengurusi urusannya sendiri, urusan orang lain yang menjadi tanggung jawabnya, urusan bangsanya, ideologi dan pemikiran-pemikirannya. Oleh karena itu setiap individu, kelompok, organisasi ataupun negara yang memperhatikan urusan umat (dalam lingkup negara dan wilayah-wilayah) bisa disebut sebagai politikus. Kita bisa mengenali hal ini dari tabiat aktivitas, kehidupan yang mereka hadapi serta tanggung jawabnya.</p>
<p>Sebagai agama yang dianut oleh mayoritas umat di Indonesia dan Propinsi Banten ini, Islam sesungguhnya memiliki aqidah berdimensi ruhiyah dan siyasiyah. Dimensi ruhiyah yang melekat dalam aqidah itu dipahami sebagai upaya mengatur hubungan manusia dengan Rob-nya sementara dimensi siyasiyahnya dimengerti sebagai upaya mengatur hubungan manusia dengan diri dan sesamanya. Oleh karena itu Islam tidak dapat dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan diri, masyarakat dan negara. Dengan kata lain Islam tidak bisa dilepaskan dari urusan politik. Bahkan menurut penelitian para ulama sebagian besar doktrin Islam itu berdimensi politik, sehingga wajar jika pada saat kaum laki-laki maupun wanita sedang memperhatikan urusan diri, masyarakat dan negaranya agar tetap berjalan sesuai syariah maka ia dikatakan sedang berpolitik. Dalam lapangan politik Islam tidak membeda-bedakan antara wanita dan laki-laki, sehingga gugatan bias jender terhadap doktrin Islam sesungguhnya tidak relevan lagi. Wallahu’alam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=251&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/wanita-politik-dan-bias-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBELA HADITS, MENEPIS ORIENTALIS  (Membantah Spekulasi dan Tuduhan Kalangan Orientalis  Terhadap Otentisitas Hadits)</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/membela-hadits-menepis-orientalis-membantah-spekulasi-dan-tuduhan-kalangan-orientalis-terhadap-otentisitas-hadits/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/membela-hadits-menepis-orientalis-membantah-spekulasi-dan-tuduhan-kalangan-orientalis-terhadap-otentisitas-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 14:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan Tamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Kusnady Ar-Razi Salah satu gugatan yang dilontarkan oleh kalangan orientalis ketika menggugat otentisitas hadits adalah pernyataan tentang ketiadaan data historis dan bukti tercatat (documentary evidence) yang dapat memastikan otentisitas hadits. Hal ini (menurut mereka) disebabkan tidak adanya kitab-kitab atau catatan-catatan hadits dari para sahabat RA. Dan menurut mereka hadits-hadits yang ada baru dicatat pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=247&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh: Kusnady Ar-Razi</p>
<div class="Section1"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Salah satu gugatan yang dilontarkan oleh kalangan orientalis ketika menggugat otentisitas hadits adalah pernyataan tentang ketiadaan data historis dan bukti tercatat (<em>documentary evidence</em>) yang dapat memastikan otentisitas hadits. Hal ini (menurut mereka) disebabkan tidak adanya kitab-kitab atau catatan-catatan hadits dari para sahabat RA. Dan menurut mereka hadits-hadits yang ada baru dicatat pada abad kedua dan ketiga hijriah. Secara implisit mereka hendak mengatakan bahwa hadits yang ada sekarang tidak asli dari Muhammad Saw, dan tidak lebih hanyalah karangan para ulama dan generasi setelah Rasul Saw dan para Sahabat RA. Benarkah demikian?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><span id="more-247"></span>Orientalisme<span> </span>adalah tradisi kajian keislaman yang berkembang di Barat.<sup>1 </sup>Dr.Syamsuddin Arif mengatakan<sup>2</sup>, “gugatan orientalis terhadap hadits bermula pada pertengahan abad ke-19 M, tatkala hampir seluruh bagian Dunia Islam telah masuk dalam cengkraman kolonialisme bangsa-bangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger, yang pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup dan ajaran Nabi Muhammad SAW, misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim bahwa hadits merupakan kumpulan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Secara umum kajian yang dilakukan oleh kalangan orientalis memang memiliki kecenderungan dan motif yang berbeda. Ada yang berniat “mencari” kebenaran dan tidak sedikit juga yang mencari kelemahan Islam. Jika sebagian orientalis yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dari Islam melakukan kajian dengan ilmiah dan obyektif, maka sebagian lagi yang mencari kelemahan Islam justru kajian mereka sama sekali tidak obyektif (subyektif) dan penuh rasa curiga. Maka hasil kajian tersebut pun digunakan untuk menyerang Islam, salah satunya dengan menggugat otentisitas hadits dengan mengatakan bahwa hadits adalah rekayasa para ulama abad kedua hijriah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Tuduhan semacam ini muncul dari beberapa tokoh orientalis, salah satunya adalah Joseph Scathc dalam bukunya <em>The Origins of Muhammadan Jurisprudence</em>. Kajiannya diawali dengan meneliti proses kemunculan Hukum Islam. Dia berpendapat bahwa Hukum Islam baru berwujud pada masa setelah al-Sya’bi (w. 110 H). hal ini berarti hadits-hadits yang berkenaan dengan hukum Islam adalah buatan orang-orang setelah al-Sya’bi. Karena ia beranggapan bahwa hukum Islam baru dikenal pada masa pengangkatan para <em>qadi</em>. Maka kesimpulan yang didapat dari hasil kajiannya tersebut bahwa keputusan-keputusan yang diambil para <em>qadi</em> itu memerlukan legitimasi dari orang yang memiliki otoritas lebih tinggi sehingga mereka menisbahkannya kepada orang-orang sebelum mereka sampai pada totoh-tokoh generasi tabi’in, para Sahabat, dan berakhir pada Nabi Muhammad Saw. inilah rekonstruksi sanad menurut Schatc.<sup>3</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Hasil kajian Scahtc tersebut sebenarnya telah dibantah oleh Muhammad Musthafa Azami, seorang ulama dari India. MM Azami telah mengkritik kesalahan dan kecerobohan yang dilakukan oleh Scathc. Menurutnya, metode yang dipakai oleh Scathc dengan meneliti sanad hadits dari kitab-kitab fiqh jelas keliru. Seharusnya Scathc merujuknya dari sumber utama yaitu kitab-kitab hadits sehingga tidak akan menghasilkan kesimpulan yang keliru. Menurut penelitian yang dilakukan oleh MM Azami, sebenarnya pemakaian sanad , jauh-jauh hari telah dilakukan oleh masyarakat Arab secara umum. Artinya tradisi tersebut telah ada dan dilakukan oleh para Sahabat untuk meriwayatkan hadits.<sup>4</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Tampaknya hasil kajian Scathc mulai menunjukkan kelemahannya dengan banyaknya bantahan dari pakar Islam. Adalah Dr. Ugi Suharto dengan analisanya telah menguatkan bantahan MM Azami terhadap Scathc. Beliau mengatakan bahwa tradisi periwayatan hadits dengan isnad telah dimulai sejak para Sahabat menerima hadits dari Rasul Saw. Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Dr. Ugi Suharto adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya bahwa Rasul Saw telah bersabda: “<em>Hendaklah orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak</em>.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ahmad ibn Hanbal dari ‘Abd al-Razzaq dari Ma’mar dari Hammam ibn Munabbih dari Abu Hurayrah r.a.<sup>5</sup><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dalam rangkaian sanad tersebut yang menarik adalah bahwa semua rawi tersebut adalah ahli hadits dan memiliki kitab-kitab hadits. Sebagaimana diketahui bahwa Abu Dawud (w. 275 H/888 M) adalah murid dari Imam Ahmad (w. 241 H/855 M) dan meriwayatkan hadits darinya. Hadits diatas terdapat dalam Sunan Abu Dawud dalam Kitab <em>al-Adab, </em>bagian<em> Bab Man Awla bi al-Salam</em>. Hal demikian sudah tentu Abu Dawud selama belajar kepada Imam Ahmad sempat menyimak Musnad milik Imam Ahmad. Ternyata ketika membuka Musnad Imam Ahmad hadits tersebut ditemukan di sana. Hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa Musnad Imam Ahmad turut berperan menjadi rujukan Imam Abu Dawud.<sup>6</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dr. Ugi Suharto melanjutkan analisanya sampai rantai <em>isnad</em> berikutnya. Menurut beliau hal yang sama juga terjadi pada Imam Ahmad yang berguru pada Abd al-Razzaq (w. 211 H/826 M). Karena itu dalam <em>Kitab al-Musnad</em> akan kita temukan riwayat yang mengandung isnad dengan lafadz “<em>haddatsana </em>‘Abd al-Razzaq,” yang berarti “Abd al-Razzaq mengatakan kepada kami”. Dalam <em>Kitab al-Musannaf</em> milik ‘Abd al-Razzaq jilid 10, halaman 388, nomor hadits 19445 akan ditemukan hadits “<em>salam” </em>di atas persis seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam <em>Musnad</em>-nya. Tidak hanya sampai disini, hadits tersebut pun didapatkan oleh ‘Abd al-Razzaq dari Ma’mar ibn Rasyid (w. 153 H/770 M) dalam <em>Kitab al-Jami’</em>. Ma’mar adalah guru dari ‘Abd al-Razzaq dan sebagian hadits dari <em>Kitab al-Jami’</em> diriwayatkan oleh muridnya tersebut. Hadits “<em>salam</em>” tersebut ternyata juga terdapat dalam <em>Kitab al-Jami’</em>. Jika ditelusuri lagi ternyata <em>Kitab al-Jami’</em> banyak berisi hadits yang diriwayatkan oleh Hammam ibn Munabbih (w. 131 H/748 M) dalam <em>Sahifah</em> miliknya. Ma’mar berguru kepada Hammam dan isi <em>Sahifah </em>tersebut sempat dibacakan kepada Ma’mar. Dan yang mengejutkan bahwa hadits di atas tadi seratus persen sama dalam <em>Sahifah</em> tersebut dengan yang diriwayatkan oleh Ma’mar dalam <em>Kitab al-Jami’</em>. Kemudian berlanjut kepada Hammam sendiri bahwa beliau adalah murid dari Abu Hurayrah r.a. (w. 59 H/678 M). Dan ternyata <em>Sahifah </em>tersebut merupakan koleksi hadits Hammam yang ia terima dari Abu Hurayrah r.a.<sup>7</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Penulusuran hadits melalui rantai isnad di atas memastikan bahwa catatan hadits dari Abu Hurayrah r.a. secara tidak langsung telah diserap oleh Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya melalui jalur di atas. Sehingga pendapat Scathc mengenai rekayasa hadits dilakukan oleh ulama abad kedua dan awal ketiga hijriah dengan sendirinya terbantahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Penulisan Hadits di Masa Sahabat RA <em><span> </span></em></span></strong></p>
</div>
<p><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:Calibri;"><br />
</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Generasi sahabat merupakan generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. Mereka adalah generasi yang paling baik pemahamannya terhadap keduanya (Al-Quran maupun As-Sunnah). Mengetahui dimana, kapan, dan mengenai apa ayat Al-Quran diturunkan. Apalagi Rasul Saw berada di tengah-tengah mereka yang setiap saat menjadi rujukan setiap perkara dan mendengar serta memperhatikan segala sesuatu yang berasal dari Beliau Saw. Tak terkecuali juga hadits yang merupakan <em>qaul</em> (perkataan), <em>af’al</em> (perbuatan) serta <em>taqrir</em> (persetujuan) Rasul Saw. Maka segera para Sahabat menghafalkan dan memeliharanya di dalam dada mereka tatkala Rasul Saw menyampaikannya kepada mereka.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Walaupun para sahabat menerima hadits dari Rasul Saw dengan jalan menghafal, bukan berarti hadits yang diterima tersebut tidak ditulis oleh mereka. Banyak riwayat yang sampai kepada kita bahwa di antara beberapa sahabat ada yang memiliki catatan-catatan hadits. Salah satunya adalah Abdullah ibn ‘Amr, yang memiliki <em>Al-Shahifah al-Shadiqah</em>. <em>Shahifah</em> ini akhirnya berpindah tangan kepada cucunya, yaitu ‘Amr ibn Syu’aib. Imam Ahmad meriwayatkan sebagian besar isi <em>shahifah</em> ini dalam <em>Musnad</em>-nya.<sup>8</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dalam <em>Sunan Abi Dawud dan al-Musnad</em><sup>9</sup> dari Abdullah ibn ‘Amr, beliau berkata: “Saya telah menulis segala apa yang aku dengar dari Rasulullah Saw untuk aku hapalkan.” Maka orang-orang Quraisy melarangku dengan berkata: “apakah kamu menulis segala sesuatu sedangkan Rasulullah Saw itu adalah manusia yang kadang-kadang dalam keadaan ramah.” Maka aku pun menghentikan penulisan itu, dan mengadukannya kepada Rasulullah Saw sambil menunjuk mulutnya, beliau berkata: <em>“Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar darinya kecuali yang hak.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Riwayat di atas dan riwayat lainnya yang sejenis memberikan bukti bahwa penulisan hadits telah dilakukan oleh para sahabat di saat Rasulullah Saw masih berada di tengah-tengah mereka. Kendati demikian ada sejumlah hadits yang secara lahiriah bertentangan dengan hadits di atas. Dalam riwayat Muslim dan Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw bersabda: <em>“Janganlah kamu tulis sesuatu dariku selain Al-Quran. Barang siapa telah menulis sesuatu dariku selain Al-Quran hendaklah ia menghapusnya.” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Hadits tersebut di atas telah dijadikan dalil oleh sejumlah kalangan terutama orientalis sebagai alat justifikasi untuk mendukung pendapat mereka bahwa hadits tidak ditulis oleh para sahabat disebabkan adanya larangan tersebut. Terhadap kontradiksi ini para ulama telah memberikan pandangannya. Namun para ulama memberikan pendapat yang berbeda, dalam hal ini muncul dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama, kasus ini merupakan <em>mansukh al-sunnah bi al-sunnah</em>. Yakni semula Rasulullah Saw semula melarang penulisan hadits, namun kemudian karena sunnah semakin banyak dan dikhawatirkan akan hilang maka beliau memerintahkan untuk menuliskannya. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Qutaibah (w. 276 H).<sup>10</sup> Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Al-Khatthabi dalam kitabnya <em>Ma’alim al-Sunan</em><sup>11</sup> yang mengatakan bahwa kemungkinan besar larangan penulisan itu datang lebih dahulu, kemudian datang pembolehannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Pendapat kedua, bahwa kasus pelarangan tersebut disebabkan adanya kekhawatiran percampuradukkan antara Al-Quran dan hadits. Jadi ada semacam <em>‘illat </em>munculnya pelarangan tersebut yaitu kekhawatiran atau ketakutan akan tercampurnya Kitab Allah dengan Sunnah.<em> </em>Pendapat ini dikemukakan oleh Dr. Nuruddin ‘Itr seorang ulama hadits dan ahli tafsir dari Universitas Damaskus. Pendapat ini disandarkan pada riwayat dari ‘Urwah ibn Zubair bahwa Umar ibn al-Khatthab<em> </em>berkeinginan untuk menuliskan hadits dan setelah disampaikan keinginan tersebut kepada para sahabat, maka sahabat pun menyetujuinya. Namun setelah beliau bersitikharah, beliau mengatakan: “Sesungguhnya saya pernah berkeinginan untuk menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah Saw. Akan tetapi, aku ingat bahwa kaum sebelum kamu menulis beberapa kitab lalu mereka asyik menyibukkan diri dengan kitab-kitab itu dan meninggalkan Kitab Allah. Demi Allah saya tidak akan mencampuradukkan Kitab Allah dengan sesuatu apa pun buat selama-lamanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Pernyataan ‘Umar tersebut secara tegas menjelaskan kepada para sahabat bahwa sikap tersebut dilatarbelakangi oleh adanya <em>‘illat</em> yaitu kekhawatiran tercampurnya Al-Quran dan hadits. Al-Khathib dalam kitab <em>Taqyid al-‘Ilm</em><sup>12</sup> mengatakan: “hasil penelitian menunjukkan bahwa keengganan penulisan hadits pada masa awal tiada lain agar tidak terjadi keserupaan Al-Quran dengan yang lainnya, atau agar Al-Quran dengan yang lainnya, atau agar Al-Quran tidak ditinggalkan karena menekuni selainnya.” Oleh karena itu, penulisan atau kodifikasi hadits sudah dilakukan secara individu oleh para sahabat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah Ibn ‘Amr yang telah diberikan izin oleh Rasulullah Saw, sebab beliau tidak khawatir terhadap Abdullah ibn ‘Amr akan mencampurnya dengan Al-Quran ditambah ia adalah sahabat yang tekun dan cakap dalam membuat catatan sehingga beliau tidak melarangnya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;line-height:115%;"><span style="font-family:Calibri;">Sahabat lainnya yang melakukan penulisan hadits adalah Abu Hurayrah. Dan sebagian besar lembaran yang berisi hadits tersebut diriwayatkan oleh Hammam Ibn Munabbih. Lembaran ini memiliki nilai sejarah sekaligus mementahkan tuduhan mereka yang meragukan kodifikasi hadits sebelum abad kedua Hijriah, sebab Hammam, salah seorang ulama kalangan tabi’in, berjumpa dengan Abu Hurairah. Tidak diragukan lagi, ia menulis langsung dari Abu Hurairah di masa hidupnya karena Abu Hurairah wafat pada tahun 59 H. Artinya, pencatatan dilakukan sebelum tahun ini atau pertengahan abad pertama. Lembaran ini berhasil sampai pada kita secara utuh, persis seperti riwayat dan catatan Hammam dari Abu Hurairah. Lembaran ini pertama kali ditemukan dan ditahqiq oleh Dr. Muhammad Humaidillah. Selanjutnya, tahqiq kedua dilakukan oleh Dr. Rif’at Fauzi dengan menambahkan beberapa keterangan penting. Lembaran ini memuat 138 hadits, tepat seperti keterangan Ibnu Hajar bahwa Hammam mendengar sekitar 140 hadits dari Abu Hurairah dengan satu sanad.<sup>13</sup> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Khatimah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Usaha kalangan orientalis yang menyerang agama ini akan terus menemui kebuntuan. Hal ini karena para ulama dan fuqoha serta orang-orang yang ikhlas tidak akan pernah berhenti menyingkap kebohongan-kebohongan mereka dengan menampakkan kebenaran Islam. Serta mengembalikan dan meluruskan kembali pemahaman kaum muslimin, menyingkirkan racun pemikiran (sekulerisme, liberalisme, pluralisme, serta seluruh derivasinya) hingga umat ini bisa membedakan antara yang bathil dan yang haq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Walhasil, tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan agama ini selain mengembalikan pemikiran kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan memahami keduanya sebagaimana pemahaman para Sahabat RA dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Referensi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">1</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Nurul Huda Maarif. <em>Muhammad Mustafa Azami; Menepis Orientalis, Membela Hadits</em>. Majalah ISLAMIA, Thn 1 no.3/September – November 2004. Hal 103.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">2 </span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span> </span>Dr. Syamsuddin Arif, <em>Gugatan Terhadap Hadits</em>, </span><a href="http://ahlulhadis.wordpress.com/2008/05/31/gugatan-terhadap-hadis/di">http://ahlulhadis.wordpress.com/2008/05/31/gugatan-terhadap-hadis/</a><em><sup></sup></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><em><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">3</span></sup></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">., hal. 107.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">4</span></sup><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">., hal. 108</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">5</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Dr. Ugi Suharto. <em>Peranan Tulisan Dalam Periwayatan Hadits</em>. Majalah ISLAMIA, Thn 1 no.2/Juni – Agustus 2004. Hal. 74.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">6</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 75</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">7</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 75 – 77. Dr. Ugi Suharto mengatakan; berdasarkan penelitian Muhammad Hamidullah, <em>Sahifah </em>Hammam ibn Munabbih berisi 138 potong hadits Rasulullah Saw. Termasuk hadits “<em>salam” </em>tersebut terdapat dalam <em>Sahifa</em>h tersebut nomor 49. Menurut penelitian Dr. Ugi Suharto tersebut, 70 hadits dari <em>Sahifah</em> terdapat dalam <em>Kitab al-Musannaf</em>. Dan dari 70 hadits ini, sebanyak 34 hadits terdapat dalam <em>Kitab al-Jami’</em>. Melalui ‘Abd al-Razzaq periwayatan <em>Sahifah</em> Hammam disampaikan dan diteruskan kepada Imam Ahmad yang telah memasukkan hampir keseluruhan kandungan <em>Sahifah</em> Hammam dalam <em>Musnad</em>-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">8</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Dr. Nuruddin ‘Itr. <em>‘Ulum Al-Hadits </em>(terj. Drs. Mujiyo). Dar al-Fikr Damaskus. Hal. 30. Selain <em>Shahifah</em> Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash<span> </span>ada <em>Shahifah Ali bin Abi Thalib</em>. <em>Al-Bukhari</em> meriwayatkan kisah <em>Shahifah</em> ini dari riwayat Abu Juhaifah, katanya: Aku bertanya (kepada Ali): “Apakah kamu mempunyai kitab?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali Kitab Allah; ilmu yang kudapati dari seorang muslim, dan apa yang terdapat dalam shahifah ini.” Aku Bertanya: “Apa yang terdapat dalam shahifah itu?” Ia menjawab: “Aql (ketentuan-ketentuan diat), tentang pembebasan tawanan perang, dan bahwa seorang Muslim tidak dapat dijatuhi hukuman mati karena membunuh seorang kafir.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">9</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 25. Dari <em>Abu Dawud</em>, 3 : 218; <em>Musnad Imam Ahmad</em>, 2 : 205. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">10</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 26. Ibnu Qutaibah juga mengemukakan pendapat kedua bahwa kebolehan menulis sunnah itu dikhususkan bagi beberapa orang sahabat, seperti Abdullah bin ‘Amr karena ia dapat membaca kitab-kita terdahulu dan dapat menulis dengan bahasa Siryani dan Arab. Sedangkan sahabat yang lain adalah orang-orang yang ummi, tidak dapat membaca dan menulis, kecuali satu dua orang yang bila menulis belum dapat dipertanggungjawabkan karena tidak sesuai dengan kaidah penulisan huruf hijaiyah. Oleh karena itu, ketika beliau mengkhawatirkan adanya kesalahan penulisan, maka beliau melarangnya, maka ketika beliau yakin bahwa kekhawatiran itu tidak terjadi pada Abdullah bin ‘Amr, maka beliau mengizinkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">11</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 26.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">12</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">Ibid., hal. 27.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">13</span></sup><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"> http://ahlulhadis.wordpress.com/2008/05/31/gugatan-terhadap-hadists. Dikutip dari Ibnu Hajar dalam At-Tahzib, hlm. 67.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=247&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/02/10/membela-hadits-menepis-orientalis-membantah-spekulasi-dan-tuduhan-kalangan-orientalis-terhadap-otentisitas-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIME FOR KHILAFAH TO LEAD THE WORLD</title>
		<link>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/01/08/time-for-khilafah-to-lead-the-world/</link>
		<comments>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/01/08/time-for-khilafah-to-lead-the-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 11:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alpenprosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alpenprosa.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[by: Dian P.S (AlPenProsa Surabaya) how is like to be longing for? longing for; someone you&#8217;re wildly in love with? hometown when you&#8217;re homesick? family when you&#8217;re far from home? let me stand if i were you it&#8217;s like glariously heavenly to get what you&#8217;re longing for it&#8217;s like terribly sad not to get it [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=241&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by: Dian P.S (AlPenProsa Surabaya)</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;font-weight:normal;">how is like to be longing for?</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">longing for;</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">someone you&#8217;re wildly in love with?</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">hometown when you&#8217;re homesick?</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">family when you&#8217;re far from home?</span></strong></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">let me stand if i were you</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">it&#8217;s like glariously heavenly</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">to get what you&#8217;re longing for</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">it&#8217;s like terribly sad</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">not to get it all</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">everybody knows this</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">that a man is born with possessivity for his own world</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">then i&#8217;m just a caravan</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">with life in a short trip to eternity</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">i might(hopefully)be an avatar of Abu Dzar Al Ghifari</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">&#8211;he lived and died alone but his life ended happily&#8211;</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;"><span id="more-241"></span>then we&#8217;d better look at the world out there nearby us;</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">our neighbours with homes left burnt</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">people with life homeless,no jobs but tramps,beggars,and </span></strong><span class="yshortcuts">street children</span><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">and other people at the same boat</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">they have their own world but they lost it</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">then we look at the world out there far from us;</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">palestine,iraq,afghanistan,kashmir,bosnia in 90&#8242;s,algeria in 30&#8242;s,ambon,poso and the other troubled lands i can hardly name one by one</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">they have their own world but they lost everything</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">some and more people are longing for something</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">something weird,loathed,judged as an alien and a monster by some others</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">something we should have been longing for since 83 years ago</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">despite our different feel about it,</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">the world indeed needs that something to save it </span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">with or without anyone&#8217;s but Allah&#8217;s pleasure</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">the world indeed needs it to save it</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">from its massive destruction of human civilization of the era</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">i&#8217;m talking about khilafah</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">without khilafah,imperialism never ends</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">without khilafah,slavery(human trafficking,prostitution),starvation,poverty,stupidity never end</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">without khilafah,the corruptors are at large with luxurious cars and houses</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">without khilafah,criminals remain at large and victims live in jail at homes</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">without khilafah,the nature is massively broken</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">man lives without khilafah is like fish lives without water</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">khilafah is a shelter where we feel at home</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">i&#8217;m longing for khilafah</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">to save the world&#8211;my and everyone&#8217;s world&#8211;</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">so is the world</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">the world is longing for khilafah</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">coz &#8220;it is time for khilafah to lead the world&#8221;</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;font-weight:normal;">(the theme of indonesia&#8217;s last international khilafah conference at GBK main stadium)</span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alpenprosa.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alpenprosa.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alpenprosa.wordpress.com&amp;blog=731703&amp;post=241&amp;subd=alpenprosa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alpenprosa.wordpress.com/2009/01/08/time-for-khilafah-to-lead-the-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d70a241e02bf8d481808d391f7ade49?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alpenprosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
