Oleh: Nur Aulia Solihah
Bulan April identik dengan hari perempuan Indonesia. Pada bulan ini digelar berbagai kegiatan memperingati kelahiran Kartini. Seorang pahlawan perempuan nasional yang dianggap berjasa mengangkat harkat martabat perempuan. Girls, jika mau sedikit bersusah payah membaca sejarah. Pahlawan perempuan yang berkontribusi kemajuan bangsa, ternyata bukan Kartini saja. Kita bisa menemukan sosok-sosok pahlawan perempuan tak kalah hebat – bahkan jauh hebat- dibanding Kartini. Nggak percaya? Kita coba susuri beberapa diantaranya yah.
Nama-nama mereka itu antara lain: Kemala Hayati (Panglima perang Aceh), Cut Nyak Dien, Cut Muetia, Nyi Ageng Serang, Siti Manggopoh, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Rohanna Koeddoes (wartawati pertama), Nyai Ahmad Dahlan (pendiri Aisyiyah Muhammadiyah), dan Sholihah Wahid Hasjim (K.H.A Wahid Hasjim). Patut dicatat girls, pahlawan-pahlawan tadi mayoritas pemahaman agamanya bia dibilang oke banget lho!
Kemala Hayati atau Malahayati, seorang laksamana laut yang cukup terkenal. Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Dia memimpin pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas). Menurut sejarah, Kemala Hayati memiliki seratus kapal perang. Setiap kapal perang dapat mengangkut 400 perajurit atau tentara. Laksamana Malahayati turut bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka. Kala itu Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, berusaha menggoyang kekuasaan Aceh. Namun armadanya malah diporakporandakan armada Laksamana Malahayati. Banyak yang ditawan dan Cornelis de Houtman mati dibunuh Laksamana Malahayati.
Nyi Ageng Serang, perempuan kelahiran 1752 Yogyakarta ini, bersama ayah dan kakaknya, merobek- robek Perjanjian Giyanti. Mereka mengangkat senjata berjuang melawan Belanda. Ketika pecah perang Diponegoro pada tahun 1825, suami Nyi Ageng Serang tewas dalam pertempuran. Nyi Ageng Serang tetap meneruskan perjuangan suaminya. Meski berusia 73 tahun, Nyi Ageng mendapat kepercayaan memimpin pasukan pembawa Panji “Gula Kelapa” (warna Merah Putih) di daerah Jawa Tengah. Nyi Ageng dalam pertempuran itu memprakarsai penggunaan daun Talas sebagai taktik penyamaran.
Siti Manggopoh, perempuan Minang kelahiran Mei 1880 ini memimpin perlawanan kebijakan ekonomi pajak uang (belasting) Belanda. Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau. Gerakan rakyat menolak kebijakan belasting di Manggopoh kemudian disebut Perang Belasting. Belanda dibuat sangat kewalahan, sehingga meminta bantuan pasukan di luar Manggopoh. Siti Manggopoh membawa serta anaknya, Dalima, yang masih menyusui ikut dalam dalam memimpin perlawanan di hutan. Bahkan anaknya tersebut ikut menyertainya pula dipenjara selama 3,5 tahun.
Hajjah Rangkayo Rasuna Said, lahir 14 September 1910 di Maninjau, Sumatera Barat. Rasuna memulai karier organisasi di Sarekat rakyat dan diangkat sebagai Sekretaris Cabang. Pada tahun 1930, Rasuna menjadi anggota Permi (Persatuan Muslimin Indonesia). Kepintaran dan kemahirannya berpidato dipergunakan untuk mengecam Pemerintah Belanda. Tahun 1932, Belanda menjebloskan Rasuna ke dalam penjara di Semarang. Selesai menjalani pembuangan, ia kembali ke Sumatera Barat. Selanjutnya aktif dalam bidang pendidikan. Ia mendirikan Sekolah Thawalib, Sekolah Kursus Puteri di Padang, lalu pindah ke Medan dan mendirikan Perguruan Puteri. Disamping itu aktif pula dalam bidang pers dengan mendirikan Majalah Manara Puteri. Zaman pendudukan Jepang ia mendirikan “Pemuda Nippon Raya”, dan menggembleng para pemuda agar berjuang untuk memperoleh kemerdekaan tanah air dan bangsa. Rasuna pernah menjabat
anggota Dewan Perwakilan Sumatera, aggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS) dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Rohanna Koeddoes, kelahiran 1884, wartawati pertama Indonesia asal
Koto Gadang, Agam. Rohana bersama Ratna Djoewita menerbitkan suratkabar “Soenting Melajoe” (Sunting Melayu), surat kabar perempuan Melayu pertama, yang juga merupakan suratkabar tertua di Indonesia. Setelah ia menikah dengan Abdul Koeddoes, Rohanna mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS). Ia bersama perempuan Minang lain bersama-sama memperbaiki kondisi perempuan di sana.
Nyai Ahmad Dahlan, atau Siti Walidah, salah satu aktivis Islam yang menonjol. Tahun 1914, istri pendiri ormas Muhammadiyah, K.H Agus Dahlan ini membangun perkumpulan Sopo Tresno (siapa suka), khusus untuk perempuan. Perempuan ini salah satu penentang adagium: “Wong wadon iku suwargo nunut, nerakane katut wong lanang”, perempuan itu masuk surga karena mengikuti orang laki-laki, begitu juga masuk neraka secara otomatis ikut orang laki-laki. Menurutnya, perempuan adalah patner kaum lelaki. Mereka sendirilah yang harus menentukan dan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah kelak. Bukan malah ngekor kepada kaum lelaki. Nyai Ahmad Dahlan juga mencetuskan istilah “catur pusat”. Pendidikan di empat pusat: lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah. Gagasan inilah yang kemudian, pada tahun 1912, ia ejawantahkan dalam bentuk sekolah, yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Nyai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Aisyiah.
Sholihah Wahid Hasjim, isteri K.H.A Wahid Hasjim, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Perempuan kelahiran 11 Oktober 1922, Jombang Jawa Timur ini aktif di muslimat Nahdlatul Ulama. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Jakarta mewakili NU, kemudian anggota DPR Gotong Royong (1958). Berbagai organisasi sosial ia ikuti.
Perempuan-perempuan hebat tersebut mengukir prestasi cemerlang di kanvas sejarah nasional Indonesia. Tanpa memperdulikan puja-pujian, sempatan tanda jasa dari negara. Semangat perjuangan ruhiyah mereka patut kita contoh untuk membangkitkan negeri ini dari keterpurukan.
(published: Sabili Mag)








Komentar Terakhir