BERANI KOTOR ITU BAIK …
Oleh: Trisno Kumari (AlPen ProSa Surabaya, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Jurnalistik Universitas Dr. Soetomo SURABAYA)
Dimuat di Surabaya Pagi, 28 Juli 2007
Tema iklan yang diusung oleh salah satu produsen deterjen terkenal di Indonesia yang satu ini memang inovatif. ”Berani Kotor Itu baik” mendobrak mitos mencuci dan hubungannya dengan kebersihan. Sudah menjadi hal yang umum, para ibu menginginkan anaknya menjadi cerdas, kreatif, dan berprestasi. Sementara ketika bermain terkadang anak-anak tidak peduli dengan lingkungan kotor , yang penting asyik dan menyenangkan. Bagi para ibu mencuci bisa jadi merupakan pekerjaan yang melelahkan. Cucian yang kotor dan bandel semakin menambah berat pekerjaan para ibu. ”Berani kotor itu baik” mampu mendobrak mitos mencuci dan hubungannya dengan kebersihan. Menumbuhkan kreativitas anak dalam bermain tanpa rasa khawatir dengan beban mencuci yang melelahkan. Pemilihan kalimat ”Berani kotor itu baik” memiliki makna ganda jika tidak digabungkan dengan kalimat yang lain. Dalam dua kalimat yang kontradiksi tersebut terdapat dua kata yang terdiri dari ”Berani Kotor” dan ”Itu Baik” yang mengandung kata sifat dan membutuhkan keterangan yang mendahuluinya. Akan lebih mudah dimengerti jika pilihan kalimatnya ”Mencuci pakaian?kreativitas anak?Berani kotor itu baik”. Tentu kalimatnya menjadi panjang dan tidak efisien, tetapi tidak menimbulkan salah persepsi akibat makna ganda di dalamnya, disamping tidak terjadi manipulasi iklan.
”Berani Kotor itu Baik” juga dipakai dalam kasus korupsi di negri ini. Seolah menjadi slogan yang ampuh untuk saling berebut prestasi dan predikat sebagai ”Koruptor Hitam”.Alih-alih memperbaiki kondisi perbankan melalui ”Bantuan” Likuiditas Bank Indonesia(BLBI) yang terjadi malah ”Bantuan” tersebut dijadikan ajang korupsi besar-besaran. Akibat konglomerat dibiarkan melanggar batas maksimal pemberian kredit, pemerintah harus menyalurkan BLBI, Obligasi Rekap,dan program penyehatan perbankan, itu semua dibiayai oleh uang rakyat yang menimbulkan kerugian lebih dari 650 triliun(Kompas 4/7/2007). Bukan menjadi kepentingan soal tema iklan deterjen tersebut. Tetapi menjadi masalah jika pilihan kata-kata nya dapat menyesatkan publik. Lebih tepat jika publik dalam hal ini konsumen yang menggunakan produk apapun karena pemujukan iklan yang ditawarkan, akan merasa dirugikan jika tidak sesuai dengan kenyataanya. Dalam masyarakat konsmen(Jean Boudrillard 1968 dalam Wernick 1991). Masyarakat mengkonsumsi sesuatu berdasarkan pada tanda-tanda yang melekat pada obyek. Masyarakat juga mengkonsumsi suatu barang bukan berdasar pada kebutuhan. Masyarakat hidup dalam hasrat atas tanda-tanda(simbol). Demikianlah masyarakat kita sekarang ini, terkadang menelan secara mentah apa saja yang ada dihadapannya sebagai bagian dari gaya hidup. Dalam suatu fase kehidupan, terkadang kita mengkonsumsi sesuatu tersebut bukan atas dasar kebutuhan, tetapi atas dasar prestise. Hal yang menjadi sasaran empuk bagi para kapital terhadap masyarakat konsumen jenis ini. Parahnya apapun jika menghasilkan modal akan dilakukan oleh para kapital, sekalipun dengan iklan yang menyesatkan. Berbeda jika ”Berani Kotor Itu Baik” diadopsi sebagai slogan para koruptor maupun calon koruptor, jelas nampak kefektifan hasil dan efisiensi pekerjaan, tanpa memerlukan keterangan kalimat lain , apalagi dalam berbagai perilaku korupsi di negri yang ”Gemah Ripah Loh Jinawi” menjadi ”Gemah Ripah untuk di Korupsi” Kembali kepada pilihan kalimat” Berani Kotor itu Baik ” seperti dua sisi mata uang, akan berbeda makna jika pilihan kalimat tersebut digunakan dalam situasi yang berbeda. ”Berani Kotor itu Baik” jika yang dimaksudkan adalah kemudahan-kemudahan yang didapatkan oleh para ibu dalam tugas cuci- mencuci, sehingga tidak menghambat kreativitas anak dalam bermain karena takut kotor, maka pilihan kalimat tersebut sah-sah saja. Tetapi akan berbeda jika ” Berani Kotor itu Baik” dalam hal korup- mengkorup apalagi jika dalam wilayah penegakan hukum dan norma agama, maka slogan itu menjadi bencana bagi harkat dan martabat manusia. Syukur jika masih ada pilihan kalimat ”Berani Bersih itu Baik” dalam ranah koreksi sistem ini sebagai bagian dari kewajiban warga negara.








Komentar Terakhir