by: Nafiisah FB
Malam sudah pekat menyelimuti bumi. Namun, para manusia tidak sepenuhnya terlelap dan terbuai dalam mimpi. Sebagian masih terbangun, masih bekerja keras demi nafas keesokan hari.
Kayla berjalan melewati sebuah gerobak. Dia tertegun. Seorang ibu bersama seorang bayi tidur dalam gerobak itu. Seorang pria tampak tidur di sisi gerobak, beralas sebuah tikar usang. Mungkin bapaknya, pikir Kayla. Mereka tampak nyenyak.
”Mereka tidur nyenyak. Tapi, bukan berarti mereka layak berada dalam kondisi seperti itu!”
Kayla menghela nafas panjang, menahan panas di kelopak matanya agar tidak menderas membasahi pipinya.
Batin Kayla terus bicara, ”Kalian seharusnya bisa tidur di kasur empuk. Bukan yang mewah. Karena, gua yakin kalian pun enggak akan memaksa, meminta harus ada. Dan, karena kalian bukan mereka yang serakah! Cukup kasur yang sepadan buat seorang manusia.”
Kayla merasakan panas di dua kelopak matanya semakin menyengat. Setitik air jatuh. Dia menahan sekuatnya.
”Dan Papi telah merampasnya!” teriak batin Kayla.
Panas di kelopak mata berubah menjadi banjir airmata seketika. Kayla berlari.








Komentar Terakhir